Rabu, 28 Desember 2016

BAHAYA CINTA DUNIA BERLEBIHAN

“Orang yang mencintai dunia secara berlebihan tidak akan lepas dari tiga macam penderitaan :

1) Kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya.
2) Kepayahan yang tiada henti.
3) Dan penyesalan yang tiada berakhir.

[Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, kitab kitab “Igaatsatul lahfaan” (1/37)]

Hal ini dikarenakan orang yang mencintai dunia secara berlebihan jika telah mendapatkan sebagian dari (harta benda) duniawi maka nafsunya tidak pernah puas dan terus berambisi mengejar yang lebih daripada itu.

Sebagaimana dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang berisi) harta (emas) maka dia pasti (berambisi) mencari lembah harta yang ketiga“.

(HR. al-Bukhari (no. 6072) dan Muslim (no. 116)).

(Sumber : Buku Terapi Mensucikan Jiwa; Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah)

TIGA CARA YANG PALING JITU DALAM MENUNTUT ILMU

سْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Menuntut ilmu agama adalah ibadah yang sangat mulia. Bahkan Allah ta'ala telah menetapkan bahwa seorang hamba tidak akan menggapai kebaikan apa pun tanpa mempelajari ilmu agama.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memahamkannya dengan agama.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu]

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqoloni Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

وَمَفْهُومُ الْحَدِيثِ أَنَّ مَنْ لَمْ يَتَفَقَّهْ فِي الدِّينِ أَيْ يَتَعَلَّمْ قَوَاعِدَ الْإِسْلَامِ وَمَا يَتَّصِلُ بِهَا مِنَ الْفُرُوعِ فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ

“Mafhum hadits ini adalah, siapa yang tidak melakukan tafaqquh fid diin (berusaha memahami agama), yaitu tidak mempelajari kaidah-kaidah Islam dan cabang-cabangnya maka sungguh ia telah diharamkan untuk meraih kebaikan.” [Fathul Baari, 1/165]

Allah tabaraka wa ta'ala juga menjanjikan keutamaan yang besar di dunia dan akhirat bagi siapa yang menuntut ilmu agama, terutama melalui majelis ilmu.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga, dan tidaklah ada satu kaum yang berkumpul di rumah Allah; membaca kitab Allah dan saling mengajarkannya di antara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dicurahkan kepada mereka rahmat, malaikat meliputi mereka dan Allah menyebut mereka di hadapan malaikat yang ada di sisi-Nya.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

⁉ Bagaimana Cara Terbaik dalam Menuntut Ilmu Agama?

Faqihul ‘Ashr Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya:
Pertanyaan: Sarana apakah yang terbaik dalam menuntut ilmu yang bermanfaat?
Jawaban: Sarana-sarana menuntut ilmu banyak bentuknya di zaman modern ini, walhamdulillah. Diantaranya:

✔ [Pertama] Engkau menuntut ilmu dari seorang guru yang terpercaya dalam ilmu dan (amal) agamanya. Dan ini adalah sarana terbaik, terkuat dan terdekat untuk meraih ilmu.
✔ [Kedua] Engkau menuntut ilmu dari kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama yang amanah lagi terpercaya dalam ilmu dan agama mereka.
✔ [Ketiga] Engkau menuntut ilmu melalui kaset-kaset yang disebarkan para ulama yang terpercaya dalam ilmu dan amanah mereka.
✔ Inilah tiga cara yang memungkinkan untuk meraih ilmu.

Dan yang paling penting dalam menuntut ilmu adalah:
1⃣ Kesungguhan,
2⃣ Sabar dalam menuntut ilmu secara terus menerus,
3⃣ Niat yang baik.

✔ Inilah sesungguhnya diantara sebab untuk meraih ilmu.

[Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah, 26/148 no. 50]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Dicopas dari grup WA Buku Islam Iqra Sunnah

PERJALANAN TERJAUH DAN TERBERAT

Untukmu anakku,"Tahukah kamu nak?" Perjalan terjauh dan terberat bg seorang lelaki adalah perjalanan ke masjid.
Sebab bnyk orang kaya tdk sanggub mengerjakannya.
Jgnkan sehari lima waktu, bahkan bnyk pula yg seminggu sekalipun terlupa.
Tidak jarang pula seumur hidup tdk pernah singgah kesana.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid

Karena orang pintar dan pandaipun sering tdk mampu menemukannya, walaupun mereka mampu mencari ilmu hingga ke universitas eropa ataupun amerika.
Mudah melangkahkan kaki ke Mall, Diskotiq, Bar, Tempat rekreasi, dg semangat yg membara, kantong tebal namun ke masjid tetap sj perjalan yg tdk mampu mereka tempuh walaupun tanpa biaya.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid.

Para pemuda yg kuat dan bertubuh sehat yg mampu menaklukkan puncak gunung bromo, merapi, jg para serdadu yg mampu mengatasi rintangan berat, mampu menaklukkan musuh pun sering mengeluh kalau di ajak ke masjid.
Alasan mereka beragam, ada yg berkata, "sebentar lagi, ah! waktu masih panjang, msh ngantuk, ah!tdk nyaman di cap orang alim, dan berbagai macam alasan lainya.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalan ke masjid

Maka berbahagialah dirimu wahai anakku
Bila sejak kecil engkau telah terbiasa melangkahkan kaki ke masjid.
Karena bagi kami sejauh manapun engkau melangkahkan kaki tdk ada perjalanan yg paling kami banggakan selain perjalanan ke masjid

Biar aku beri tahu rahasia kepadamu.
Sejatinya Perjalanan ke masjid adalah perjalanan untuk menjumpài Rabbmu.
Itulah perjalanan yg di ajarkan oleh Nabimu serta perjalanan yg akan membedakanmu dg orang-orang yg lupa akan Rabbmu.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid

Maka lakukanlah walau engkau harus merangkak dalam gelap subuh demi mengenal Rabbmu.

Ayah dan ibumu yang mencintaimu

Disalin dari grup WA Buku Islam Iqra Sunnah

Senin, 26 Desember 2016

30 KESALAHAN DALAM SHALAT

“Sesungguhnya yang petama kali akan dihisab atas seorang hamba pada hari kiamat adalah perkara sholat. Jika Sholatnya baik, maka baik pula seluruh amalan ibadah lainnya, kemudian semua amalannya akan dihitung atas hal itu.”(HR. An Nasa’I : 463)
Banyak orang yang lalai dalam sholat, tanpa sengaja melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak diketahuinya, yang mungkin bisa memubat amalan sholatnya tidak sempurna. Kita akan paparkan kesalahan yang sering terjadi dalam sholat.

➡1. Menunda–nunda Sholat dari waktu yang telah ditetapkan
Hal ini merupakan pelanggaran berdasarkan firman Allah, “Sesungguhnya sholat suatu kewajiban yang telah ditetepkan waktunya bagi orang-orang beriman”. (QS. An-Nisa : 103)

➡2. Tidak sholat berjamah di masjid bagi laki-laki
Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Barang siapa yang mendengar panggilan (azan) kemudian tidak menjawabnya (dengan mendatangi sholat berjamaah), kecuali uzur yang dibenarkan”. (HR. Ibnu Majah Shahih) Dalam hadits bukhari dan Muslim disebutkan. “Lalu aku bangkit (setelah sholat dimulai) dan pergi menuju orang-orang yang tidak menghadiri sholat berjamaah, kemudian aku akan membakar rumah-rumah mereka hingga rata dengan tanah.”

➡3. Tidak tuma’minah dalam sholat
Makna tuma’minah adalah, seseorang yang melakukan sholat, diam (tenang) dalam ruku’, i’tidal, sujud, dan duduk diantara dua sujud. Dia harus ada pada posisi tersebut, dimana setiap ruas-ruas tulang ditempatkan pada tempatnya yang sesuai. Tidak boleh terburu-buru di antara dua gerakan dalam sholat, sampai dia seleasi tuma’ninah dalam posisi tertentu sesuai waktunya. Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda kepada seseorang yang tergegesa dalam sholatnya tanpa memperlihatkan tuma;minah dengan benar, “Ulangi sholatmu, sebab kamu belum melakukan sholat.

➡4. Tidak khusyu’ dalam sholat, dan melakukan gerakan-gerakan yang berlebihan di dalamnya
Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya, seseorang beranjak setelah mengerjakan sholatnya dan tidak ditetapkan pahala untuknya kecuali hanya sepersepuluh untuk sholatnya, sepersembilan, seperdelapan, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga atau setangah darinya. ” (HR. Abu Dawud, Shahih) mereka tidak mendapat pahala sholatnya dengan sempurna disebabkan tidak adanya kekhusyu’an dalam hati atau melakukan gerakan-gerakan yang melalaikan dalam sholat.

➡5. Sengaja mendahului gerakan iman atau tidak mengikuti gerakan-gerakannya
Perbuatan ini dapat membatalkan sholat atau rakaat-rakaat. Merupakan suatu kewajiban bagi makmum untuk mengikuti imam secara keseluruhan tanpa mendahuluinya atau melambat-lambatkan sesudahnya pada setiap rakaat sholat. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya dijadikan imam itu untuk diikuti keseluruhannya. Jika ia bertakbir maka bertakbirlah, dan jangan bertakbir sampai imam bertakbir, dan jika dia ruku’ maka ruku’lah dan jangan ruku’ sampai imam ruku’ “. (HR. Bukhari)

➡6. Berdiri untuk melengkapi rakaat yang tertinggal sebelum imam menyelesaikan tasyahud akhir dengan mengucap salam ke kiri dan kekanan
Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Jangan mendahuluiku dalam ruku’, sujud dan jangan pergi dari sholat (Al-Insiraf)”. Para ulama berpendapat bahwa Al-Insiraf, ada pada tasyahud akhir. Seseorang yang mendahului imam harus tetap pada tempatnya sampai imam menyelesaikan sholatnya (sempurna salamnya). Baru setalah itu dia berdiri dan melengkapi rakaat yang tertinggal.

➡7. Melafadzkan niat
Tidak ada keterangan dari Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam maupun dari para sahabat bahwa meraka pernah melafadzkan niat sholat. Ibnul Qayyim rmh menyatakan dalam Zadul-Ma’ad “Ketika Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam berdiri untuk sholat beliau mengucapkan ‘Allahu Akbar’, dan tidak berkata apapun selain itu. Beliau juga tidak melafalkan niatnya dengan keras.

➡8. Membaca Al-Qur’an dalam ruku’ atau selama sujud
Hal ini dilarang, berdasarkan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “saya telah dilarang untuk membaca Al-Qur’an selama ruku’ atau dalam sujud.” (HR. Muslim)

➡9. Memandang keatas selama sholat atau melihat ke kiri dan ke kanan tanpa alasan tertentu
Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Cegahlah orang-orang itu untuk mengangkat pandangan ke atas atau biarkan pandangan mereka tidak kembali lagi”. (HR. Muslim)

➡10. Melihat ke sekeliling tanpa ada keperluan apapun
Diriwayatkan dari Aisyah, bahwa ia berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam tentang melihat ke sekeliling dalam sholat Beliau menjawab, “Itu adalah curian yang sengaja dibisikan setan pada umat dalam sholatnya”. (HR. Bukhari)

 ➡11. Seorang wanita yang tidak menutupi kepala dan kakinya dalam sholat
Sabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam, “Allah tidak menerima sholat wania yang sudah mencapai usia-haid, kecuali jiak dia memakai jilbab (khimar)”. (HR. Ahmad).

➡12. Berjalan di depan orang yang sholat baik orang yang dilewati di hadapanya itu sebagai imam, maupun sedang sholat sendirian dan melangka (melewati) di antara orang selama khutbah sholat Jum’at
Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Jika orang yang melintas di depan orang yang sedang sholat mengetahui betapa beratnya dosa baginya melakukan hal itu, maka akan lebih baik baginya untuk menunggu dalam hitungan 40 tahun dari pada berjalan didepan orang sholat itu”. (HR. Bukhari dan Muslim). Adapun lewat diantara shaf orang yang sedang sholat berjamaah, maka hal itu diperbolehkan menurut jumhur bedasarkan hadits Ibnu Abbas : “Saya datang dengan naik keledai, sedang saya pada waktu itu mendekati baligh. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam sedang sholat bersama orang –orang Mina menghadap kedinding. Maka saya lewat didepan sebagian shaf, lalu turun dan saya biarkan keledai saya, maka saya masuk kedalam shaf dan tidak ada seorangpun yang mengingkari perbuatan saya”. (HR. Al-Jamaah). Ibnu Abdil Barr berkata, “Hadits Ibnu Abbas ini menjadi pengkhususan dari hadits Abu Sa’id yang berbunyi “Jika salah seorang dari kalian sholat, jangan biarkan seseorangpun lewat didepannya”. (Fathul Bari: 1/572)

➡13. Tidak mengikuti imam (pada posisi yang sama) ketika datang terlambat baik ketika imam sedang duduk atau sujud
Sikap yang dibenarkan bagi seseorang yang memasuki masjid adalah segera mengikuti imam pada posisi bagaimanapun, baik dia sedang sujud atau yang lainnya.

➡14. Seseorang bermain dengan pakaian atau jam atau yang lainnya
Hal ini mengurangi kekhusyu’an. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam melarang mengusap krikil selama sholat, karna dapat merusak kekhusyu’an, Beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian sedang sholat, cegahlah ia untuk tidak menghapus krikil sehingga ampunan datang padanya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad)

➡15. Menutup mata tanpa alasan
Hal ini makruh sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, “Menutup mata buka dari sunnah rasul”. Yang terbaik adalah, jika membuka mata tidak merusak kekhusyu’an sholat, maka lebih baik melakukannya. Namun jika hiasan, ornament dsn sebagainya disekitar orang yang sholat atau antara dirinya dengan kiblat mengganggu konsentrasinya, maka dipoerbolehkan menutup mata. Namun demikian pernyataan untuk melakukan hal itu dianjurkan (mustahab) pada kasus ini. Wallahu A’lam.

➡16. Makan atau minum atau tertawa
“Para ulama berkesimpulan orang yang sholat dilarang makan dan minum. Juga ada kesepakatan di antara mereka bahwa jika seseorang melakukannya dengan sengaja maka ia harus mengulang sholatnya.

➡17. Mengeraskan suara hingga mengganggu orang-orang di sekitarnya
Ibnu Taimiyah menyatakan, “Siapapun yang membaca Al-Qur’an dan orang lain sedang sholat sunnah, maka tidak dibenarkan baginya untuk membacanya dengan suara keras karena akan mengganggu mereka. Sebab, Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam pernah meninggalkan sahabat-sahabatnya ketika mereka sholat ashar dan Beliau bersabda, “Hai manusia setip kalian mencari pertolongan dari Robb kalian. Namun demikian, jangan berlebihan satu sama lain dengan bacaan kalian”.

➡18. Menyela di antara orang yang sedang sholat
Perbuatan ini teralarang, karena akan mengganggu. Orang yang hendak menunaikan sholat hendaknya sholat pada tempat yang ada. Namun jika ia melihat celah yang memungkinkan baginya untuk melintas dan tidak mengganggu, maka hal ini di perbolehkan. Larangan ini lebih ditekankan pada jama’ah sholat Jum’at, hal ini betul-betul dilarang. Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda tentang merka yang melintasi batas sholat, “Duduklah! Kamu mengganggu dan terlambat datang".

➡19. Tidak meluruskan shaf
Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Luruskan shafmu, sesungguhnya meluruskan shaf adalah bagian dari mendirikan sholat yang benar” (HR. Bukhari dan Muslim).

➡20. Mengangkat kaki dalam sujud
Hal ini bertentangan dengan ynag diperintahkan sebagaimana diriwayatkan dalam dua hadits shahih dari Ibnu Abbas, “Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam telah memerintah bersujud dengan tujuh anggota tubuh dan tidak mengangkat rambur atau dahi (termasuk hidung), dua telapak tangan, dua lutut, dan dua telapak kaki.” Jadi seseorang yang sholat (dalam sujud), harus dengan dua telapak kaki menyentuk lantai dan menggerakan jari-jari kaki menghadap kiblat. Tiap bagian kaki haris menyentuk lantai. Jika diangkat salah satu dari kakinya, sujudnya tidak benar. Sepanjang dia lakukan itu dalam sujud.

➡21. Meletakkan tangan kiri dia atas tangan kanan dan memposisikannya di leher
Hal ini berlawanan dengan sunnah karena Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dan meletakkan keduanya di dada beliau. Ini hadits hasan dari beberapa sumber yang lemah di dalamya. Tapi dalam hubungannya saling menguatkan di antara satu dengan lainnya.

➡22. Tidak berhati-hati untuk melakukan sujud dengan tujuh angota tubuh (seperti dengan hidung, kedua telapak tangan, kedua lutuk dan jari-jari kedua telapak kaki)
Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Jika seorang hamba sujud, maka tujuh anggota tubuh harus ikut sujud bersamanya: wajah, kedu telapak tangan kedua lutut dan kedua kaki”. (HR. Muslim)

➡23. Membunyikan persendian tulang dalam sholat
Ini adalah perbuatan yang tidak dibenarkan dalam sholat. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits dengan sanad yang baik dari Shu’bah budak Ibnu Abbas yang berkata, “Aku sholat di samping Ibnu Abbas dan aku membunyikan persedianku.” Selesai sholat dia berkata, “Sesungguhnya kamu kehilangan ibumu!, karena membunyikan persendian ketika kamu sholat!”.

➡24. Membunyikan dan mepermainkan antar jari-jari (tasbik) selama dan sebelum sholat
Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam, “Jika salah seorang dari kalian wudhu dan pergi ke masjid untuk sholat, cegahlah dia memainkan tangannya karena (waktu itu) ia sudah termasuk waktu sholat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi)

➡25. Menjadikan seseorang sebagai imam, padahal tidak pantas, dan ada orang lain yang lebih berhak
Merupakan hal yang penting, bahwa seorang imam harus memiliki pemahaman tentang agama dan mampu membaca Al-Qur’an dengan benar. Sebagaimana sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam “Imam bagi manusia adalah yang paling baik membaca Al-Qur’an” (HR. Muslim)

➡26. Wanita masuk ke masjid dengan mempercantik diri atau memakai harum-haruman
Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Jangan biarkan perempuan yang berbau harum menghadiri sholat isya bersama kita.” (HR. Muslim)

➡27. Sholat dengan pakaian yang bergambar, apalagi gambar makhluk bernyawa
Termasuk pakaian yang terdapat tulisan atau sesuatu yang bisa merusak konsentrasi orang yang sholat di belakangnya.

➡28. Sholat dengan sarung, gamis dan celana musbil melebihi mata kaki)
Banyak hadits Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam yang meyebutkan larangan berbuat isbal diantaranya : A. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda : sesungguhnya Allah tidak menerima sholat seseorang lelaki yang memakain sarung dengan cara musbil.” (HR. Abu Dawud (1/172 no. 638); B. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda : Allah tidak (akan) melihat sholat seseorang yang mengeluarkan sarungnya sampai kebawah (musbil) dengan perasaan sombong.” (Shahih Ibnu Khuzaimah 1/382); C. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Sarung yang melebihi kedua mata kaki, maka pelakunya di dalam neraka.” (HR.Bukhari : 5887)

➡29. Sholat di atas pemakaman atau menghadapnya
Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Jangan kalian menjadikan kuburan sebagai masjid. Karena sesungguhnya aku telah melarang kalian melakukan hal itu.” (HR. Muslim : 532)

➡30. Sholat tidak menghadap ke arah sutrah (pembatas)
Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam melarang perbuatan tersebut seraya bersabda : “Apabila salah seorang diantara kalian sholat menghadap sutrah, hendaklah ia mendekati sutahnya sehingga setan tidak dapat memutus sholatnya. (Shahih Al-Jami’ : 650) Inilah contoh perbuatan beliau “Apabila beliau sholat di tempat terbuka yang tidak ada seorangpun yang menutupinya, maka beliau menamcapkan tombak di depannya, lalu sholat menghadap tombak tersebut, sedang para sahabat bermakmum di belakangnya. Beliau tidak membiarkan ada sesuatu yang lewat di antara dirinya dan sutrah tresebut.” Shifat Sholat Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam karya Al-Albani (hal : 55)

📗Dirangkum dari “40 Kesalahan Sholat oleh Syaikh Muhammad Jibrin & Al Qaulu Mubin fi Akhthail Mushallin, Syaikh Mansyhur Hasan Salman. Dan Diterbikan Oleh Al-Amin Publising

Selasa, 06 Desember 2016

Kebanyakan Wanita

Kelak mendekati hari kiamat, jumlah wanita sangat banyak..
Setidaknya itu pun mulai kita rasakan saat-saat ini..

A. 1 : 50
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ... وَتَكْثرَ النِّسَاءُ وَيَقلَّ الرِّجَالُ حَتَّى يَكُونُ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً القَيِّمُ اْلوَاحِدُ

“Di antara tanda semakin dekat hari kiamat adalah..sedikitnya kaum pria sampai-sampai lima puluh wanita menjadi tanggung jawab (diurus) seorang lelaki..” [HR. al-Bukhari: 81, Muslim: 2671]

B. Sedikit Di Surga.
Bila jumlah wanita banyak di dunia, bagaimana keadaan mereka di akhirat sana..?
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya penghuni surga yang paling sedikit adalah wanita..” [HR. Muslim: 7118] Lalu dimana kebanyakan kaum wanita berada..??

C. Di Neraka.
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ
 
“Aku melihat neraka.. Ternyata kebanyakan penghuni neraka adalah para wanita..” [HR. al-Bukhari: 3241, Muslim: 2738]

D. Sebab?
Tatkala Nabi ditanya perihal sebab yang menjadikan kaum wanita banyak menjadi penghuni neraka.. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, "Mereka para wanita mengingkari suami dan kebaikannya.. Bila saja engkau (suami) berlaku baik kepada seorang istri di suatu waktu.. Lalu di lain kesempatan ia (istri) melihat sesuatu (yang tidak mencocokinya).. Maka istri akan berucap,

مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
"Sama sekali belum pernah aku melihat kebaikan dari dirimu..” [HR. al-Bukhari: 5197, Muslim: 907]

Subhanallah..
Wanita menjadikan batasan baik dan buruk adalah berdasarkan kesenangan dirinya semata..
Inilah (di antara) penyebab para lelaki korupsi, memanfaatkan jabatan, menipu, dan perkara buruk lainnya..
Ingin menyenangkan hati istri tetapi salah langkah..
Jangan mengikuti kebanyakan wanita yang menjadikan wanita kebanyakan di neraka..
Durhaka dan ingkar kebaikan suami..

Di copas dari grup WA Buku Islam Iqra Sunnah

Senin, 05 Desember 2016

Renungan Bagi Pelaku Dosa dan Maksiat



Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhu berkata :

Wahai orang yang berbuat dosa, janganlah engkau merasa aman dari dosa-dosamu. Ketahuilah bahwa akibat dari dosa yang engkau lakukan adalah jauh lebih besar daripada dosa dan maksiat itu sendiri...!

Ketahuilah bahwa hilangnya rasa malu kepada Malaikat yang menjaga di kiri kananmu saat engkau melakukan dosa dan maksiat adalah jauh lebih besar dosanya daripada dosa dan maksiat itu...!

Sesungguhnya ketika engkau tertawa saat melakukan maksiat sedangkan engkau tidak tahu apa yang akan Allah lakukan atasmu adalah jauh lebih besar dosanya daripada dosa dan maksiat itu...

Kegembiraanmu saat engkau melakukan maksiat yang menurutmu menguntungkanmu adalah jauh lebih besar dosanya daripada dosa dan maksiat itu...!

Dan kesedihanmu saat engkau tidak bisa melakukan dosa dan maksiat yang biasanya engkau lakukan adalah jauh lebih besar dosanya daripada dosa dan maksiat itu...!

Ketahuilah bahwa perasaan takut aib dan maksiatmu akan diketahui orang lain sedangkan engkau tidak pernah takut dengan pandangan dan pengawasan Allah adalah jauh lebih besar dosanya daripada aib dan maksiat itu...!

Tahukah engkau apa dosa Nabi Ayub sehingga Allah mengujinya dengan sakit kulit yang sangat menjijikkan selama bertahun-tahun, ditinggalkan keluarganya dan habis harta bendanya...?

Ujian Allah itu hanya disebabkan karena seorang miskin yang dizhalimi datang meminta bantuan kepadanya, tetapi Nabi Ayub tidak membantunya" (Hilyatul Auliyaa' no.1147).

Subhanallah...!

Itu adalah akibat dari satu dosa yang telah dilakukan oleh Nabi Ayub 'alaihissalaam, lalu bagaimana dengan nasib seorang hamba yang hidupnya selalu berkubang dengan lumpur dosa, dosa dan dosa...!

Wahai saudaraku, janganlah kita merasa bersih dan suci dari dosa...!

Bisa jadi dosa kita lebih banyak daripada pelaku dosa lainnya, "hanya saja" Allah telah menutup aib dan dosa yang selama ini kita lakukan...!

Seandainya Allah tidak menutup aib-aib dan dosa-dosa yang telah kita lakukan dimasa lalu atau pun sekarang, niscaya kita semua pun akan sangat malu dihadapan manusia...!

Muhammad bin Waasi' rahimahullah berkata :

Seandainya dosa itu menimbulkan bau, maka tidak seorang pun dari kalian yang sanggup mendekatiku (al-Waro' no.527 oleh Imam Ahmad).

Ini adalah perkataan dari seorang hamba yang shalih, ahli ibadah, mujahid dan seorang yang dikenal di kalangan tabi'in cepat terkabul doanya, lalu bagaimana dengan kita yang selalu merasa suci dan bersih dari dosa dan maksiat, padahal justru kitalah sebagai "pelaku maksiat yang sebenarnya"...!

Lihatlah sikap Bisyr al-Hafi rahimahullah ketika ada seseorang yang memuji ibadahnya yang dilakukan dalam keadaan lama dan indah, maka Bisyr pun berkata kepadanya :

Janganlah engkau terpedaya dengan apa yang telah engkau lihat dariku, karena sesungguhnya iblis telah beribadah (kepada Allah) ribuan tahun kemudian dia menjadi kafir kepada Allah (Faidhul Qadir II/606)

Wahai saudaraku...
Hari yang paling baik adalah ketika tidak berbuat maksiat dan dosa kepada Allah...
Amal yang paling baik adalah amal yang diterima oleh Allah...
Waktu yang paling baik adalah waktu disaat wafat dalam keadaan husnul khathimah...
Kesuksesan dan kemerdekaan yang hakiki adalah disaat Allah memasukkan seorang hamba kedalam surga-Nya...

✍ Ustadz Najmi Umar Bakka

Sabtu, 26 November 2016

Tidak Ada Kata Terlambat untuk Belajar

Ada yang merasa bahwa ia sudah terlalu tua, malu jika harus duduk di majelis ilmu untuk mendengar para ulama menyampaikan ilmu yang berharga dan akhirnya enggan untuk belajar. Padahal ulama di masa silam, bahkan sejak masa sahabat tidak pernah malu untuk belajar, mereka tidak pernah putus asa untuk belajar meskipun sudah berada di usia senja. Ada yang sudah berusia 26 tahun baru mengenal Islam, bahkan ada yang sudah berusia senja -80 atau 90 tahun- baru mulai belajar. Namun mereka-mereka inilah yang menjadi ulama besar karena disertai ‘uluwwul himmah (semangat yang tinggi dalam belajar). Menuntut ilmu agama adalah amalan yang amat mulia. Lihatlah keutamaan yang disebutkan oleh sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,  “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah. Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih. Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah (mendekatkan diri pada Allah).”
Imam yang telah sangat masyhur di tengah kita, Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Tidak ada setelah berbagai hal yang wajib yang lebih utama dari menuntut ilmu.”

Berikut 10 contoh teladan dari ulama salaf di mana ketika berusia senja, mereka masih semangat dalam mempelajari Islam.

Teladan 1 – Dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum
Imam Bukhari menyebutkan dalam kitab shahihnya, “Para sahabat belajar pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru ketika usia senja”.

Teladan 2 – Perkataan Ibnul Mubarok
Dari Na’im bin Hammad, ia berkata bahwa ada yang bertanya pada Ibnul Mubarok, “Sampai kapan engkau menuntut ilmu?” “Sampai mati insya Allah”, jawab Ibnul Mubarok.

Teladan 3 – Perkataan Abu ‘Amr ibnu Al ‘Alaa’
Dari Ibnu Mu’adz, ia berkata bahwa ia bertanya pada Abu ‘Amr ibnu Al ‘Alaa’, “Sampai kapan waktu terbaik untuk belajar bagi seorang muslim?” “Selama hayat masih dikandung badan”, jawab beliau.

Teladan 4 – Teladan dari Imam Ibnu ‘Aqil
Imam Ibnu ‘Aqil berkata, “Aku tidak pernah menyia-nyiakan waktuku dalam umurku walau sampai hilang lisanku untuk berbicara atau hilang penglihatanku untuk banyak menelaah. Pikiranku masih saja terus bekerja ketika aku beristirahat. Aku tidaklah bangkit dari tempat dudukku kecuali jika ada yang membahayakanku. Sungguh aku baru mendapati diriku begitu semangat dalam belajar ketika aku berusia 80 tahun. Semangatku ketika itu lebih dahsyat daripada ketika aku berusia 30 tahun”.

Teladan 5 – Teladan dari Hasan bin Ziyad
Az Zarnujiy berkata, “Hasan bin Ziyad pernah masuk di suatu majelis ilmu untuk belajar ketika usianya 80 tahun. Dan selama 40 tahun ia tidak pernah tidur di kasur”.

Teladan 6 – Teladan dari Ibnul Jauzi
Kata Adz Dzahabiy, “Ibnul Jauzi pernah membaca Wasith di hadapan Ibnul Baqilaniy dan kala itu ia berusia 80 tahun.”

Teladan 7 – Teladan dari Imam Al Qofal
Al Imam Al Qofal menuntut ilmu ketika ia berusia 40 tahun.

Teladan 8 – Teladan dari Ibnu Hazm
Ketika usia 26 tahun, Ibnu Hazm belum mengetahui bagaimana cara shalat wajib yang benar. Asal dia mulai menimba ilmu diin (agama) adalah ketika ia menghadiri jenazah seorang terpandang dari saudara ayahnya. Ketika itu ia masuk masjid sebelum shalat ‘Ashar, lantas ia langsung duduk tidak mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid. Lalu ada gurunya yang berkata sambil berisyarat, “Ayo berdiri, shalatlah tahiyatul masjid”. Namun Ibnu Hazm tidak paham. Ia lantas diberitahu oleh orang-orang yang bersamanya, “Kamu tidak tahu kalau shalat tahiyatul masjid itu wajib?”(*) Ketika itu Ibnu Hazm berusia 26 tahun. Ia lantas merenung dan baru memahami apa yang dimaksud oleh gurunya.

Kemudian Ibnu Hazm melakukan shalat jenazah di masjid. Lalu ia berjumpa dengan kerabat si mayit. Setelah itu ia kembali memasuki masjid. Ia segera melaksanakan shalat tahiyatul masjid. Kemudian ada yang berkata pada Ibnu Hazm, “Ayo duduk, ini bukan waktu untuk shalat”(**).

Setelah dinasehati seperti itu, Ibnu Hazm akhirnya mau belajar agama lebih dalam. Ia lantas menanyakan di mana guru tempat ia bisa menimba ilmu. Ia mulai belajar pada Abu ‘Abdillah bin Dahun. Kitab yang ia pelajari adalah mulai dari kitab Al Muwatho’ karya Imam Malik bin Anas.

* Perlu diketahui bahwa hukum shalat tahiyatul masjid menurut jumhur –mayoritas ulama- adalah sunnah. Sedangkan menurut ulama Zhohiriyah, hukumnya wajib.

** Menurut sebagian ulama tidak boleh melakukan shalat tahiyatul masjid di waktu terlarang untuk shalat seperti selepas shalat Ashar. Namun yang tepat, masih boleh shalat tahiyatul masjid meskipun di waktu terlarang shalat karena shalat tersebut adalah shalat yang ada sebab.

Teladan 9 – Teladan dari Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abdis Salam
Beliau adalah ulama yang sudah sangat tersohor dan memiliki lautan ilmu. Pada awalnya, Imam Al ‘Izz sangat miskin ilmu dan beliau baru sibuk belajar ketika sudah berada di usia senja.

Teladan 10 – Teladan dari Syaikh Yusuf bin Rozaqullah
Beliau diberi umur yang panjang hingga berada pada usia 90 tahun. Ia sudah sulit mendengar kala itu, namun panca indera yang lain masih baik. Beliau masih semangat belajar di usia senja seperti itu dan semangatnya seperti pemuda 30 tahun.

Jika kita telah mengetahui 10 teladan di atas dan masih banyak bukti-bukti lainnya, maka seharusnya kita lebih semangat lagi untuk belajar Islam. Dan belajar itu tidak pandang usia. Mau tua atau pun muda sama-sama punya kewajiban untuk belajar. Inilah yang penulis sendiri saksikan di tengah-tengah belajar di Saudi Arabia, banyak yang sudah ubanan namun masih mau duduk dengan ulama-ulama besar seperti Syaikh Sholeh Al Fauzan, bahkan mereka-mereka ini yang duduk di shaf terdepan.

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata,

مَنْ لَا يُحِبُّ الْعِلْمَ لَا خَيْرَ فِيهِ

“Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya.”

Ya Allah berkahilah umur kami dalam ilmu, amal dan dakwah. Wabillahit taufiq.
Sumber : https://rumaysho.com

Renungan bagi Penuntut Ilmu


Salah satu penyakit yang telah menembus hati sebagian penuntut ilmu adalah, ketika ada satu permasalahan dalam Diennya yang pertama kali terucap di lisannya: Apa pendapat Syeikh fulan, apa komentar ulama fulan, apa kata ustadz fulan??

Tidakkah yang paling pertama keluar dari lisannya adalah: Apa menurut firman Allah, disurah apa ayat berapa, apa menurut Rasulullah, dihadist apa, terdapat dikitab mana??

Ketika engkau sudah membawakan firman Allah dan RasulNya menurut pemahaman para salaf, engkau telah menjelaskannya, lalu orang itu masih membenturkan dengan pendapat Syeik fulan, Ulama fulan, seraya berkata: Syeikh kami, ulama kami, ustadz kami tidak berpendapat demikian..Tinggalkanlah orang itu.

Sungguh ilmu Syeikh dan ulama mu tidak ada seujung kuku dibanding 4 imam madzhab. Toh mereka tetap mengajarkan untuk meninggalkan pendapat mereka jika itu bertentangan dengan pendapat Nabi yang engkau bawakan.

ABU HANIFAH:
Jika suatu hadits shahih, itulah madzhabku. Ibn 'Abidin - Al Hasyiyah l/163.

Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu darimana kami mengambil sumbernya.
Ibnu Abdil Barr - Al Intiqa hal 145.

MALIK BIN ANAS
Saya hanya seorang manusia, kadang salah, kadang benar. Telitilah pendapatku. Bila sesuai dg Al Qur'an dan As Sunnah,  ambillah, dan bila tidak sesuai, tinggalkanlah. Ibnu Hazm -Ushul Al Ahkam Vl/149.

Siapapun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima, kecuali hanya Nabi sendiri. Ibn Abdil Barr - Al Jami' ll/291.

IMAM SYAFI'I
Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan hadits Rasulullah, peganglah Hadits Rasulullah dan tinggalkanlah pendapatku. Nawawi - Al Majmu' l/63.

Bila suatu hadits itu shahih, itulah madzhabku. Nawawi - Majmu' l/57.

IMAM AHMAD
Janganlah engkau taqlid kepadaku atau kepada Malik, Syafi'i, Auza'i dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil.
Ibn Qayyim - Al i'lam ll/302.

Jika engkau telah mengetahui kebenaran, dari sumber yang jelas, maka tidak pantas bagimu mengambil pendapat lain yang bertentangan dengan firman Allah dan hadits Nabi walaupun yang datang dari ulama atau ustadz dimana engkau mengambil ilmu darinya. Dan juga Jangan dengarkan perkataan bapakmu, nenekmu, tantemu, engkongmu, jika yang mereka bawakan bertentangan dengan kebenaran yang nampak dihadapanmu.

Jika mereka masih saja membantahmu, tinggalkanlah. Lebih baik pulang kerumah mengaji atau dengarkan ceramah atau membaca - bacaan yang bermanfaat sambil minum kopi ditemani sepiring gorengan. Jika engkau kolesterol gantilah dg kue yang manis,  jika engkau bergula tinggi, minum air putih saja.

Semoga bermanfaat

Oleh : Abu Luqman

Jangan Hizbiyah

Oleh : Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc

Alhamdulillah..
Banyak saudara/i kita yang berlomba kepada kebaikan..
Tuk menebar sunnah..
Mengajak manusia kepada jalan Allah..
Majelis-majelis taklim merebak..
Grup - grup BB merambah..
Berbagai media telah menjadi wasilah..

Namun..
Ada sesuatu..
Terkadang kita terkena ujub..
Merasa telah berjasa untuk dakwah..

Padahal..
Kalau bukan karena Allah yang memberi hidayah..
Tentu kita tersesat jalan..
Robbuna berfirman:

 بمنون عليك أن أسلموا قل لا تمنوا علي إسلامكم بل الله يمن عليكم أن هداكم للإيمان

“Mereka mengungkit keislaman mereka kepadamu. Katakan, “Janganlah kamu mengungkit keislaman kalian kepadaku, tetapi Allahlah yang memberikan kepada kalian hidayah kepada iman.”
(Al Hujurot: 17)

Pujilah Allah atas nikmat hidayah sunnah..
Pujilah Allah yang telah memberi kekuatan menebar sunnah..
Ada sesuatu lain..
Ya.. Ini juga penting..
Radio, televisi, grup BBM, facebook dan sebagainya..
Hanyalah wasilah dan bukan tujuan..

Namun..
Terkadang kita berbangga dengan nama…
Sehingga menjerat kita dalam tali hizbiyyah..
Padahal Allah Ta’ala berfirman:

 ولا تكونوا من المشركين من الذين فرقوا دينهم وكانوا شيعا كل حزب بما لديهم فرحون

"Janganlah kalian seperti kaum musyrikin. Orang-orang yang memecah belah agama dan mereka menjadi berkelompok-kelompok. Setiap kelompok berbangga dengan apa yang ada pada mereka.”
(Ar Ruum: 31-32)

Inilah hakikat hizbiyyah..
Berbangga dengan nama organisasi..
Berbangga dengan ustadz fulan..
Berbangga dengan radio anu..
Lalu memberikan loyalitas dan permusuhan di atasnya..
Musibah.. Saudara/i ku..
Itu adalah sebagian kecil dari penyakit dakwah..
Yang merusak pejalanan mulia ini..
Semoga keberkahan selalu menyapa kita di hari ini..
Amiin..

Rabu, 23 November 2016

Takutlah dari Menyelisihi Sunnah

Ancaman Bagi Orang yang Menyelisihi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan tidak Mengikuti Petunjuknya

Kewajiban bagi seorang yang beriman ketika mendengar kebenaran yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya, ataupun penjelasan para ulama kaum muslimin tentang kebenaran berdasarkan dalil-dalilnya yang shahih adalah (sami'na wa atha'na) kami mendengar dan kami taat, maka jika ia menyelisihi kebenaran tersebut dan tidak mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka sungguh ancamannya sangat berat, yaitu:

Ia akan dibiarkan dalam kesesatan yang dia lakukan terus menerus. Dan akan di masukkan kedalam neraka Jahannam, yang merupakan seburuk-buruk tempat kembali... wal iyadzubillah.. Sebagaimana firman Allah ta'ala:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

"Dan siapa yang menentang Rasul (Muhammad shallallahu alaihi wasallam) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan kami masukkan dia ke dalam neraka Jahannam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali". (QS.  An-Nisaa: 115)

Maka berhati-hatilah terhaadap amalan yang seolah-olah baik (menurut pandangan sebagian manusia) akan tetapi sebenarnya menyelisihi petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dikabarkan seorang ulama besar dikalangan Tabi’in bernama Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah bahwa:
Dia melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua raka’at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata, “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab shalat ?” Beliau menjawab, “Tidak, akan tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi As-Sunnah (petunjuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam).” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra, II/466)

Demikian, mudah-mudahan Allah ta'ala senantiasa memberikan petunjuk dan taufiqNya kepada kita untuk mendengar kebenaran kemudian mengikuti dan mengamalkannya...

Oleh : Andri Abdul Halim, Lcحفظه الله تعالى

Hukum Memakai Cadar dalam Pandangan 4 Madzhab

Post ini tak lain sebagai pengingat diri, post ini sengaja saya ambil dari grup WA dan saya harap dapat memberi manfaat untuk para pengunjung sekalian. Selamat membaca dan mencari manfaat :)

By Yulian Purnama   

Wanita bercadar seringkali diidentikkan dengan orang arab atau timur-tengah. Padahal memakai cadar atau menutup wajah bagi wanita adalah ajaran Islam yang didasari dalil-dalil Al Qur’an, hadits-hadits shahih serta penerapan para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam serta para ulama yang mengikuti mereka. Sehingga tidak benar anggapan bahwa hal tersebut merupakan sekedar budaya timur-tengah.

Berikut ini sengaja kami bawakan pendapat-pendapat para ulama madzhab, tanpa menyebutkan pendalilan mereka, untuk membuktikan bahwa pembahasan ini tertera dan dibahas secara gamblang dalam kitab-kitab fiqih 4 madzhab. Lebih lagi, ulama 4 madzhab semuanya menganjurkan wanita muslimah untuk memakai cadar, bahkan sebagiannya sampai kepada anjuran wajib. Beberapa penukilan yang disebutkan di sini hanya secuil saja, karena masih banyak lagi penjelasan-penjelasan serupa dari para ulama madzhab.

Madzhab Hanafi

Pendapat madzhab Hanafi, wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah.
* Asy Syaranbalali berkata:

وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها باطنهما وظاهرهما في الأصح ، وهو المختار

“Seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam serta telapak tangan luar, ini pendapat yang lebih shahih dan merupakan pilihan madzhab kami“ (Matan Nuurul Iidhah)
* Al Imam Muhammad ‘Alaa-uddin berkata:

وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وقدميها في رواية ، وكذا صوتها، وليس بعورة على الأشبه ، وإنما يؤدي إلى الفتنة ، ولذا تمنع من كشف وجهها بين الرجال للفتنة

“Seluruh badan wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam. Dalam suatu riwayat, juga telapak tangan luar. Demikian juga suaranya. Namun bukan aurat jika dihadapan sesama wanita. Jika cenderung menimbulkan fitnah, dilarang menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki” (Ad Durr Al Muntaqa, 81)
* Al Allamah Al Hashkafi berkata:

والمرأة كالرجل ، لكنها تكشف وجهها لا رأسها ، ولو سَدَلَت شيئًا عليه وَجَافَتهُ جاز ، بل يندب

“Aurat wanita dalam shalat itu seperti aurat lelaki. Namun wajah wanita itu dibuka sedangkan kepalanya tidak. Andai seorang wanita memakai sesuatu di wajahnya atau menutupnya, boleh, bahkan dianjurkan” (Ad Durr Al Mukhtar, 2/189)
* Al Allamah Ibnu Abidin berkata:

تُمنَعُ من الكشف لخوف أن يرى الرجال وجهها فتقع الفتنة ، لأنه مع الكشف قد يقع النظر إليها بشهوة

“Terlarang bagi wanita menampakan wajahnya karena khawatir akan dilihat oleh para lelaki, kemudian timbullah fitnah. Karena jika wajah dinampakkan, terkadang lelaki melihatnya dengan syahwat” (Hasyiah ‘Alad Durr Al Mukhtaar, 3/188-189)
* Al Allamah Ibnu Najiim berkata:

قال مشايخنا : تمنع المرأة الشابة من كشف وجهها بين الرجال في زماننا للفتنة

“Para ulama madzhab kami berkata bahwa terlarang bagi wanita muda untuk menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki di zaman kita ini, karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah” (Al Bahr Ar Raaiq, 284)

Beliau berkata demikian di zaman beliau, yaitu beliau wafat pada tahun 970 H, bagaimana dengan zaman kita sekarang?

Madzhab Maliki

Mazhab Maliki berpendapat bahwa wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama Maliki berpendapat seluruh tubuh wanita adalah aurat.
* Az Zarqaani berkata:

وعورة الحرة مع رجل أجنبي مسلم غير الوجه والكفين من جميع جسدها ، حتى دلاليها وقصَّتها . وأما الوجه والكفان ظاهرهما وباطنهما ، فله رؤيتهما مكشوفين ولو شابة بلا عذر من شهادة أو طب ، إلا لخوف فتنة أو قصد لذة فيحرم ، كنظر لأمرد ، كما للفاكهاني والقلشاني

“Aurat wanita di depan lelaki muslim ajnabi adalah seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan. Bahkan suara indahnya juga aurat. Sedangkan wajah, telapak tangan luar dan dalam, boleh dinampakkan dan dilihat oleh laki-laki walaupun wanita tersebut masih muda baik sekedar melihat ataupun untuk tujuan pengobatan. Kecuali jika khawatir timbul fitnah atau lelaki melihat wanita untuk berlezat-lezat, maka hukumnya haram, sebagaimana haramnya melihat amraad. Hal ini juga diungkapkan oleh Al Faakihaani dan Al Qalsyaani” (Syarh Mukhtashar Khalil, 176)
* Ibnul Arabi berkata:

والمرأة كلها عورة ، بدنها ، وصوتها ، فلا يجوز كشف ذلك إلا لضرورة ، أو لحاجة ، كالشهادة عليها ، أو داء يكون ببدنها ، أو سؤالها عما يَعنُّ ويعرض عندها

“Wanita itu seluruhnya adalah aurat. Baik badannya maupun suaranya. Tidak boleh menampakkan wajahnya kecuali darurat atau ada kebutuhan mendesak seperti persaksian atau pengobatan pada badannya, atau kita dipertanyakan apakah ia adalah orang yang dimaksud (dalam sebuah persoalan)” (Ahkaamul Qur’an, 3/1579)
* Al Qurthubi berkata:

قال ابن خُويز منداد ــ وهو من كبار علماء المالكية ـ : إن المرأة اذا كانت جميلة وخيف من وجهها وكفيها الفتنة ، فعليها ستر ذلك ؛ وإن كانت عجوزًا أو مقبحة جاز أن تكشف وجهها وكفيها

“Ibnu Juwaiz Mandad – ia adalah ulama besar Maliki – berkata: Jika seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek, boleh baginya menampakkan wajahnya” (Tafsir Al Qurthubi, 12/229)
* Al Hathab berkata:

واعلم أنه إن خُشي من المرأة الفتنة يجب عليها ستر الوجه والكفين . قاله القاضي عبد الوهاب ، ونقله عنه الشيخ أحمد زرّوق في شرح الرسالة ، وهو ظاهر التوضيح

“Ketahuilah, jika dikhawatirkan terjadi fitnah maka wanita wajib menutup wajah dan telapak tangannya. Ini dikatakan oleh Al Qadhi Abdul Wahhab, juga dinukil oleh Syaikh Ahmad Zarruq dalam Syarhur Risaalah. Dan inilah pendapat yang lebih tepat” (Mawahib Jaliil, 499)
* Al Allamah Al Banaani, menjelaskan pendapat Az Zarqani di atas:

وهو الذي لابن مرزوق في اغتنام الفرصة قائلًا : إنه مشهور المذهب ، ونقل الحطاب أيضًا الوجوب عن القاضي عبد الوهاب ، أو لا يجب عليها ذلك ، وإنما على الرجل غض بصره ، وهو مقتضى نقل مَوَّاق عن عياض . وفصَّل الشيخ زروق في شرح الوغليسية بين الجميلة فيجب عليها ، وغيرها فيُستحب

“Pendapat tersebut juga dikatakan oleh Ibnu Marzuuq dalam kitab Ightimamul Furshah, ia berkata: ‘Inilah pendapat yang masyhur dalam madzhab Maliki’. Al Hathab juga menukil perkataan Al Qadhi Abdul Wahhab bahwa hukumnya wajib. Sebagian ulama Maliki menyebutkan pendapat bahwa hukumnya tidak wajib namun laki-laki wajib menundukkan pandangannya. Pendapat ini dinukil Mawwaq dari Iyadh. Syaikh Zarruq dalam kitab Syarhul Waghlisiyyah merinci, jika cantik maka wajib, jika tidak cantik maka sunnah” (Hasyiyah ‘Ala Syarh Az Zarqaani, 176)

Madzhab Syafi’i

Pendapat madzhab Syafi’i, aurat wanita di depan lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh tubuh. Sehingga mereka mewajibkan wanita memakai cadar di hadapan lelaki ajnabi. Inilah pendapat mu’tamad madzhab Syafi’i.
* Asy Syarwani berkata:

إن لها ثلاث عورات : عورة في الصلاة ، وهو ما تقدم ـ أي كل بدنها ما سوى الوجه والكفين . وعورة بالنسبة لنظر الأجانب إليها : جميع بدنها حتى الوجه والكفين على المعتمد وعورة في الخلوة وعند المحارم : كعورة الرجل »اهـ ـ أي ما بين السرة والركبة ـ

“Wanita memiliki tiga jenis aurat, (1) aurat dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan- yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan paha” (Hasyiah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112)
* Syaikh Sulaiman Al Jamal berkata:

غير وجه وكفين : وهذه عورتها في الصلاة . وأما عورتها عند النساء المسلمات مطلقًا وعند الرجال المحارم ، فما بين السرة والركبة . وأما عند الرجال الأجانب فجميع البدن

“Maksud perkataan An Nawawi ‘aurat wanita adalah selain wajah dan telapak tangan’, ini adalah aurat di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan” (Hasyiatul Jamal Ala’ Syarh Al Minhaj, 411)
* Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi, penulis Fathul Qaarib, berkata:

وجميع بدن المرأة الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وهذه عورتها في الصلاة ، أما خارج الصلاة فعورتها جميع بدنها

“Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan” (Fathul Qaarib, 19)
* Ibnu Qaasim Al Abadi berkata:

فيجب ما ستر من الأنثى ولو رقيقة ما عدا الوجه والكفين . ووجوب سترهما في الحياة ليس لكونهما عورة ، بل لخوف الفتنة غالبًا

“Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah” (Hasyiah Ibnu Qaasim ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 3/115)
* Taqiyuddin Al Hushni, penulis Kifaayatul Akhyaar, berkata:

ويُكره أن يصلي في ثوب فيه صورة وتمثيل ، والمرأة متنقّبة إلا أن تكون في مسجد وهناك أجانب لا يحترزون عن النظر ، فإن خيف من النظر إليها ما يجر إلى الفساد حرم عليها رفع النقاب

“Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat. Kecuali jika di masjid kondisinya sulit terjaga dari pandnagan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab (cadar)” (Kifaayatul Akhyaar, 181)

Madzhab Hambali

* Imam Ahmad bin Hambal berkata:

كل شيء منها ــ أي من المرأة الحرة ــ عورة حتى الظفر

“Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya” (Dinukil dalam Zaadul Masiir, 6/31)
* Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al ‘Anqaari, penulis Raudhul Murbi’, berkata:

« وكل الحرة البالغة عورة حتى ذوائبها ، صرح به في الرعاية . اهـ إلا وجهها فليس عورة في الصلاة . وأما خارجها فكلها عورة حتى وجهها بالنسبة إلى الرجل والخنثى وبالنسبة إلى مثلها عورتها ما بين السرة إلى الركبة

“Setiap bagian tubuh wanita yang baligh adalah aurat, termasuk pula sudut kepalanya. Pendapat ini telah dijelaskan dalam kitab Ar Ri’ayah… kecuali wajah, karena wajah bukanlah aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, semua bagian tubuh adalah aurat, termasuk pula wajahnya jika di hadapan lelaki atau di hadapan banci. Jika di hadapan sesama wanita, auratnya antara pusar hingga paha” (Raudhul Murbi’, 140)
* Ibnu Muflih berkata:

« قال أحمد : ولا تبدي زينتها إلا لمن في الآية ونقل أبو طالب :ظفرها عورة ، فإذا خرجت فلا تبين شيئًا ، ولا خُفَّها ، فإنه يصف القدم ، وأحبُّ إليَّ أن تجعل لكـمّها زرًا عند يدها

“Imam Ahmad berkata: ‘Maksud ayat tersebut adalah, janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada orang yang disebutkan di dalam ayat‘. Abu Thalib menukil penjelasan dari beliau (Imam Ahmad): ‘Kuku wanita termasuk aurat. Jika mereka keluar, tidak boleh menampakkan apapun bahkan khuf(semacam kaus kaki), karena khuf itu masih menampakkan lekuk kaki. Dan aku lebih suka jika mereka membuat semacam kancing tekan di bagian tangan’” (Al Furu’, 601-602)
* Syaikh Manshur bin Yunus bin Idris Al Bahuti, ketika menjelaskan matan Al Iqna’ , ia berkata:

« وهما » أي : الكفان . « والوجه » من الحرة البالغة « عورة خارجها » أي الصلاة « باعتبار النظر كبقية بدنها »

“’Keduanya, yaitu dua telapak tangan dan wajah adalah aurat di luar shalat karena adanya pandangan, sama seperti anggota badan lainnya” (Kasyful Qanaa’, 309)
* Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata:

القول الراجح في هذه المسألة وجوب ستر الوجه عن الرجال الأجانب

“Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah wajib hukumnya bagi wanita untuk menutup wajah dari pada lelaki ajnabi” (Fatawa Nurun ‘Alad Darb)

Cadar adalah Budaya Islam

Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa memakai cadar (dan juga jilbab) bukanlah sekedar budaya timur-tengah, namun budaya Islam dan ajaran Islam yang sudah diajarkan oleh para ulama Islam sebagai pewaris para Nabi yang memberikan pengajaran kepada seluruh umat Islam, bukan kepada masyarakat timur-tengah saja. Jika memang budaya Islam ini sudah dianggap sebagai budaya lokal oleh masyarakat timur-tengah, maka tentu ini adalah perkara yang baik. Karena memang demikian sepatutnya, seorang muslim berbudaya Islam.

Diantara bukti lain bahwa cadar (dan juga jilbab) adalah budaya Islam :

Sebelum turun ayat yang memerintahkan berhijab atau berjilbab, budaya masyarakat arab Jahiliyah adalah menampakkan aurat, bersolek jika keluar rumah, berpakaian seronok atau disebut dengan tabarruj. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

“Hendaknya kalian (wanita muslimah), berada di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana yang dilakukan wanita jahiliyah terdahulu” (QS. Al Ahzab: 33)
Sedangkan, yang disebut dengan jahiliyah adalah masa ketika Rasulullah Shallalahu’alihi Wasallam belum di utus. Ketika Islam datang, Islam mengubah budaya buruk ini dengan memerintahkan para wanita untuk berhijab. Ini membuktikan bahwa hijab atau jilbab adalah budaya yang berasal dari Islam.

Ketika turun ayat hijab, para wanita muslimah yang beriman kepada Rasulullah Shallalahu’alaihi Wasallam seketika itu mereka mencari kain apa saja yang bisa menutupi aurat mereka.  ‘Aisyah Radhiallahu’anha berkata:

مَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ ( وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ ) أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ قِبَلِ الْحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا

“(Wanita-wanita Muhajirin), ketika turun ayat ini: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. Al Ahzab An Nuur: 31), mereka merobek selimut mereka lalu mereka berkerudung dengannya.” (HR. Bukhari 4759)
Menunjukkan bahwa sebelumnya mereka tidak berpakaian yang menutupi aurat-aurat mereka sehingga mereka menggunakan kain yang ada dalam rangka untuk mentaati ayat tersebut.

Singkat kata, para ulama sejak dahulu telah membahas hukum memakai cadar bagi wanita. Sebagian mewajibkan, dan sebagian lagi berpendapat hukumnya sunnah. Tidak ada diantara mereka yang mengatakan bahwa pembahasan ini hanya berlaku bagi wanita muslimah arab atau timur-tengah saja. Sehingga tidak benar bahwa memakai cadar itu aneh, ekstrim, berlebihan dalam beragama, atau ikut-ikutan budaya negeri arab.

Penukilan pendapat-pendapat para ulama di atas merupakan kesungguhan dari akhi Ahmad Syabib dalam forum Fursanul Haq
Penerjemah: Yulian Purnama
Artikel www.muslim.or.id

Minggu, 25 September 2016

Ngoret

Manusia itu punya porsi masing-masing. Ada kalanya dia berubah menjadi lebih baik, kita sebagai orang lain tak berhak menghakimi perubahannya, apalagi masa lalunya. Harusnya kita ikut senang, bukan malah mencibir dan nyinyir "ih, padahal dulunya dia bla bla bla"
Heyy, kita ini siapa? tak berhak menghakimi, boleh jadi dia akan lebih baik darimu, dia lebih disayang Allah dari pada dirimu karena ketaatannya sekarang. Sejatinya, ketika engkau semakin sering nyinyir tentangnya, maka akan semakin berkurang dosa-dosanya karena telah engkau ambil sebagian dosanya.
Sekarang mau pilih mana? pilihan ada ditanganmu :)

Yuk sibukkan diri MENJADI BAIK dihadapan Allah, bukan malah MERASA sudah BAIK. Menjadi baik itu tak mengharap mendapat pengakuan dari sesama manusia, tapi mengharap Allah ridho atas apa yang kita kerjakan :)

Kamis, 15 September 2016

Mimpi Ana

MIMPI. Bicara soal mimpi, ini bukan mimpi bunga tidur loh yaa hehe. Mimpi ini yaitu suatu impian yang kalau ingin dicapai harus dikejar dan berusaha mewujudkannya, bukan sekedar 'ingin' namun tiada usaha mewujudkannya dan hanya berhenti diangan-angan saja. Semua orang berhak punya mimpi, dan kalau ana sarankan yaa kita 'wajib ain' punya mimpi hehe 
Bicara soal mimpi ana nih ya, kalau misal dilist dan ditulis di blog ini bisa jadi nanti ana dapet peringatan dari pihak blogger karena tulisannya yang panjang sampe tumpeh-tumpeh hehehe. Ah masa sampe segitunya yaa :p
Sahabat sholcan...cita-cita dan mimpi terbesar ana yaitu menjadi orang sukses abadi, yaitu menjadi penghuni surgaNya dan keluar dari dunia ini dalam keadaan semua dosaku telah terhapus. MasyaAllah siapa sih yang nggak pengen jadi penghuni surga, sugguh! ini adalah impian terbesarku :') Dan yang lebih membahagiakan lagi jika menjadi penghuni surgaNya bersama denganmu duhai jodohku, sungguh sempurna kebahagianku saat itu #ehemm

Banyak mimpi yang ingin aku raih bersama denganmu duhai jodohku, masa depanku.
Bersamamu aku ingin menjadi wanita paling beruntung karena memilikimu yang sholih, yang nanti akan membimbingku, mengajakku menuju surgaNya. Bersamamu aku ingin membangun surga kecil di dunia, menjadi keluarga yang sakinah. Iyaa, sakinah bersamamu duhai jodohku. Tidak hanya di dunia, aku ingin kita tetap bersama sampai di surga. MasyaAllah bahagianyaaa... Dikelilingi mujahid mujahidah yang sholih sholihah, lucu, cantik dan tampan hatinya seperti engkau calon abi anak-anakku. Satu hal lagi yang ingin aku raih bersamamu duhai jodohku, aku ingin kita merawat anak-anak nanti menjadikan mereka para hafidz dan hafidzah qur'an. Setujukah engkau duhai jodohku? Sungguh mimpi ini telah ada sejak lama, melahirkan generasi penghafal kalam Allah. Semoga engkau disana juga menginginkan hal yang sama denganku wahai jodohku :)

Tahukah kau jodohku? ada banyak hal yang ingin aku lakukan denganmu, yaitu kita beribadah ke Baitullah bersama aamiin... hal yang lain yaitu memelihara anak yatim hehe, aku suka anak kecil, aku suka ramai-ramainya anak kecil. Suatu saat aku pernah bermimpi memiliki pondok, lebih-lebih nanti bisa berkembang menjadi pondok pesantren hmmmm pengeeeen. Menyelam sambil minum air, iyaa mengasuh anak orang nyambi mengamalkan ilmu yang pernah aku dapatkan, serta belajar lagi-dan lagi, itung-itung ngasah otak hehe

Jadi wanita paling baruntung memiliki suami sholih, keluarga sakinah mawaddah warohmah, dititipkan mujahid mujahidah hafidz hafidzah Qur'an, ibadah ke baitullah bareng suami, ngasuh anak yatim, punya pesantren dan mengamalkan ilmu yang aku punya hmmm mimpi-mimpi ini semoga Allah akan kabulkan :') jika tidak semua yang penting aku menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkunganku saja Alhamdullilah syukurnya, hal tersebut pasti akan sangat membahagiakan :)

Semoga tulisan ini bisa menginspirasi diri ini untuk terus memantaskan diri mendapatkan hal-hal yang sekarang masih menjadi mimpi, yang suatu saat akan Allah kabulkan untukku aamiin

S E M A N G A T   P E R B A I K A N

S E M A N G A T   P E M A N T A S A N  D I R I

Rabu, 14 September 2016

Hei Jodoh! Apa Kabar?


Duhai jodoh...
Bagaimana kabar imanmu hari ini?
Semoga kau disana tetap istiqomah dalam taatmu
Semoga engkau tetap sabar menanti hari dimana kita akan bersatu. Ya, ku harap aku pun begitu :)
Jika aku disini menjaga, kuharap engkau disana juga sama
Ketika aku menulis catatan ini, hatiku sedang merindu. Sungguh! :)
Ku rindukan hadirnya dirimu sebagai penyejuk hati ini

Duhai jodoh...
Apa yang sedang kamu kerjakan?
Menghafal kalam Allah, belajar, di tengah-tengah majelis ta'lim atau yang lain?
Oh, aku sangat tidak berharap engkau sedang bersama dengan wanita lain saat ini
Betapa sakitnya hati ini jika aku tau kau sedang merayu wanita lain disana

Duhai jodoh yang telah tertulis dalam Lauhul Mahfudz jauh sebelum aku lahir
Ketahuilah, aku disini sedang mempersiapkan diri menjadi bidadarimu
Aku ingin engkau menjadi lelaki paling beruntung memiliki aku
Aku ingin menjadi alasan kesyukuranmu
Yaa.. itu janjiku :)

Duhai jodohku
Banyak hal yang ingin aku bagikan denganmu
Banyak cita-cita yang ingin aku raih bersamamu
Namun ada satu cita-cita yang benar-benar ingin aku raih bersamamu
HIDUP SESURGA denganmu :)
Oh betapa sempurnanya cintaku jika kau pun sedang memikirkan hal yang sama denganku :)

Duhai jodohku...
Ada beberapa harapanku untukmu
Aku harap (nanti) engkau akan menerima semua tentangku
Masa laluku, kurangku, keluargaku, dan semua tentangku
Inti pengharapanku satu, engkau lapang menerimaku. Itu saja :)
Tidak peduli kita baru bertemu, tidak saling kenal sebelumnya, atau bahkan ternyata kau adalah lingkunganku sendiri, yang selama ini sebenarnya kita dekat. WaAllahu 'alam

Duhai jodohku
Dalam malam-malamku aku selalu meminta Allah selalu menjagamu dimana pun kau berada
Menitipkan imanmu kepadaNya, meminta agar engkau menjadi lelaki kuat disana
Karena ku tau imanmu tidak lebih kuat dari nafsumu

Duhai jodohku...
Jaga diri baik-baik disana ya, pun sama denganku disini. Aku menjaga untuk engkau yang terjaga duhai jodohku :)
Semoga rindu yang aku susun dalam bait-bait doa di malam-malamku sampai pada hatimu dengan indah. Aku harap engkau merasakannya duhai masa depanku :)

Sumber gambar: instagram.com

Senin, 05 September 2016

Rindu Nyantri

Assalamu'alaikum sahabat sholcan :)
Bagaimana kabar hatimu hari ini? semoga tetap bersih dan istiqomah dalam taat yaaa aamiin :)
Sahabat sholcan, fulana lagi merindu nih... Iyaa, lagi rindu ma'had tercinta >,<
Gini-gini fulana juga pernah nyantri loh hehe meskipun nggak lama, iya hanya selama kurang lebih 3 tahun saja, jadi ceritanya dulu lulus SMP fulana pengen banget tuh mondok dan Alhamdulillah ternyata orangtua setuju banget kalau fulana mondok sambil sekolah disana hehe. Nyambi mondok, fulana sekolah SMA disana, lulus SMA eh lulus juga mondoknya, fulana malah milih berhenti, pulang kerumah. Tapi pas sekarang kayak nyesel, kurang lama dipondoknya :( Padahal selama nunggu masuk kuliah masih ada waktu beberapa bulan loh, sayang banget kan waktunya cuma dihabiskan dirumah. Hmmm ya begitulah, namanya penyesalan pasti selalu ada dibelakang, kalau ada didepan namanya pendaftaran hehehe
Belajar di pesantren itu seru loh, sungguh! Udah banyak temen, banyak pengalaman, dapat banyak ilmu juga loh sahabat. Ilmu umum dapet, ilmu bermasyarakat dapet, ilmu agama apalagi, tempatnya ya di ma'had ini, ilmu jadi istri sholeha juga ada loh disini *ehemm hehehe. Gimana fulana nggak bilang gitu sahabat, lah disana kita dituntut untuk mandiri, masak, bersih-bersih mulai dari nyapu, ngepel, cuci baju, cuci karpet, jemur bantal, rapihin tempat tidur, bersihin kamar mandi sampe nguras bak mandi yang panjangnya 10 meter kita bisa loh.!apalagi manage uang kiriman[1] biar cukup sampai kiriman lagi mah jangan ditanya, udah pasti pinter banget hehe...Kebayang kan punya istri alumni pesantren, ngatur duit aja pinter apalagi ngatur rumah tangga kita bang eaaaa >_< *ehh dilarang baper loh yaa wkwk
Dunia pesantren itu menyenangkan sahabat sholcan, kalau saja waktu bisa diulang kembali fulana pengen deh kembali lagi jadi santriwati. Fulana cerita sedikit kegiatan pas dulu lagi nyantri ya.. jadi, pagi sebelum subuh itu kita udah bangun pagi untuk sholat subuh berjama'ah. Bangun sebelum subuh bagi santri mah udah jadi rutinitas yaa, dan yang paling seru pas antri kamar mandi, iyaa santri itu apa-apa kudu antri, sampai-sampai punya prinsip "Budayakan Hidup Antri" hmmm kebayang kan gimana sabarnya kita, nunggu antrian mandi aja sabar apalagi nungguin jodoh *ehhh
 Lanjut yaa sama kegiatan nyantri ala fulana (dulu). Uhhh makin rindu kan jadinya hiks..hiks.. Okey fulana list aja deh
1). Bangun sebelum subuh, biasanya dibangun speaker yang super nyaring, yang langsung dikontrol oleh pengasuh sendiri
2). Mau mandi, wudlu, nyuci, apa-apa 'wajib ain' antri hehe
3). Sholat 7 waktu kudu jama'ah (fardu+dhuha+tahajud), oiya di ma'had fulana tahajudnya jam 12 malam sahabat, jadi kita bangun tengah malam, abis gitu tidur lagi sekitar jam setengah 2an dan bangun lagi jam 4 pagi
4). Pas wiridan subuh pasti ada pengurus yang ngontrol keliling mushollah sambil bawa semprotan isi air es, pas tau ada yang manggut-manggut karena nggak tahan kantuk 'sroooot' basah dehhh hehe. Pas nyemprotnya udah kayak nyiram bunga aja, dari kejauhan dan kerasnya semprotan itu loh bikin kaget hehe, jangan tanya deh fulana pernah disemprot apa nggak, yang pastiiii pernah lah ya hehe
5). Abis subuh kegiatannya itu ngaji Qira'ati (teknik baca al-quran dengan ilmu tajwid yang tepat), pas ngaji Qira'ati ini fulana sudah dikelas akhir loh sahabat, sayang banget keburu berhenti padahal kalau mau nunggu beberapa bulan lagi, fulana bisa ikut Khotmil Qur'an (semacam ijazah atas kelulusan) loh, huhu kan sedih, nyesel, eman :(
6). Setiap jumat pagi kita santriwati keluar pondok, kita ngaji di astah (makam kyai sepuh), iyaa karena astahnya ada di pondok putra, eh tapi para santrinya sudah di'bersihkan' dulu loh yaa. Tapi ya gitu, namanya kita santriwati kan nggak pernah ketemu ikhwan, pas lagi keluar sebagian ada lah yang curi-curi pandang nyari ikhwan untuk sekedar cuci mata hehe. Eh eh tapi fulana enggak loh yaaa :p
7). Setiap minggu pagi hafalan juz 'amma dan doa-doa harian. Kalau soal hafalan mah jangan ditanya, banyak yang harus dihafalkan. Kebayang kan, hafalan aja di inget-inget apalagi cuma ngerawat rumah tangga kita kelak bang, hafal banget pasti wkwkwk
8). Minggu pagi ba'da dhuha ada acara rutin yaitu ro'an (bersih-bersih lingkungan pondok lingkup besar, gotong royong mulai dari nyapu lingkungan sekolah, nguras bak kamar mandi yang super jumbo sampai bersihin mushollah yang nggak kecil itu. Hmmm seru loh :D
9). Kunjungan orang tua hanya diperbolehkan pada hari libur saja, yaitu minggu mulai ba'da dhuha, istirahat dhuhur, ba'da ashar lanjut lagi. Kalau udah hari libur, ini nih hari rayanya anak santri, makanannya banyak, bisa dibilang ajang berbagi, yang nggak dikunjungi nggak kalah senengnya, secara dapat makan gratis lah yaaa hehe
10) Makan ala santri itu gembulan[2] hal yang mengasyikkan, kekeluargaan di pesantren itu bener-bener dibangun. Indaaaah banget :')
Masih baaaanyak banget kegiatan yang lebih indah dari ini, kalau fulana list semua mungkin seminggu nggak selesai nih ceritanya :p yang jelas malam ini fulana lagi rindu, kangen banget sama ma'had tercinta. Sama suasananya, temannya, dan semua yang ada disana. Ditempat itu ngerasa tenang, nggak mikir ikhwan-ikhwanan *ehhh hehe
Udah dulu ah curcolnya, ntar malah bikin fulana makin rindu :D
[1] Uang saku dari orang tua untuk biaya hidup di pesantren
[2] Makan bareng, biasanya pakai satu nampan buat bersama, kalau fulana sih satu nampan bisa sampai sepuluh orang hehe...asyik banget kan

Sabtu, 03 September 2016

Sabtu Malam (katanya)

Selamat sabtu malam sahabat sholcan, sabtu malam loh ya bukan malam minggu, di kalenderku nggak ada yang namanya malam minggu *ehhh, curcol banget ya kalau nggak pernah malam mingguan hehehe
Bagaimana kabar iman hingga detik ini sahabat sholcan? Semoga semakin kuat ya imannya :) aamiin.
Sholcan, fulana lagi pengen berbagi cerita nih, tau nggak sholcan, ya nggak tau lah kan belum mulai cerinya hehehe... jadi gini sahabat sholcan, tadi tuh ada teman fulana yang bilang gini, "mbak, aku pengen deh pakai kerudung panjang, tapi gimana ya kayak kurang pantes aja. Mungkin kalau kedua orang tuaku iya iya aja aku berubah dengan kerudung panjang itu, tapiiii orang ketiga ini" "Emang siapa yang ketiga?" "Pacarku mbak..." Nah tuh sebenarnya dia sadar, hanya saja mungkin karena cintanya pada sang pacar dia masih merasa berat untuk mewujudkan inginnya tadi.
Sahabat sholcan sekalian pasti sudah tau bukan kalau di dalam islam itu tidak ada yang namanya pacaran sebelum halal, yang ada yaitu pacaran after akad. Hmmm tuh kan fulana jadi baper, pengen nikah jadinya wkwkwk.
Perihal kerudung panjang, ketahuilah sahabat bahwasanya itu perintah langsung dari Allah. Coba yuk kaji terjemah QS. An-Nur ayat 31, disana jelas-jelas Allah memerintahkan "Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka" Nah tuh, jelas kan sahabat, yuk mulai saat ini niatkan untuk kembali pada jalan yang Allah ridhoi. Hidayah itu dijemput, jika kita hanya sekedar "ingin" yang terucap hanya di lisan saja tapi tidak ada usaha untuk mewujudkan inginnya, lalu kapan inginnya akan terwujud? iya kan sholcan :D
Yuk kita sama-sama belajar, menjemput hidayah Allah. Awali dengan niat, lalu banyak-banyak berdoa minta sama Allah untuk diistiqomahkan dalam menjalani taatnya. Memang semuanya tidak mudah, yang namaya cobaan, godaan, hambatan pasti ada. Namun ketika kita mampu bersabar, kita kuat menjalaninya percayalah Allah akan menggantinya dengan yang indah-indah. Buah dari sabar itu manis loh sahabat, kayak akuuu *ehhh hehehe. Jika kita tak mendapatkannya di dunia, percalah Allah akan membalasnya di akhirat :)
Tulisan ini tidak lain adalah sebagai nasehat untuk diri ini, semoga fulana bisa menjadi wanita sholihah, yang mampu istiqomah dalam taatnya kepada Allah aamiin :) pun sama untuk para sahabat sholcan sekalian, semoga kita semua bisa menjadi wanita yang mampu menjaga kehormatan hingga nanti kekasih halal kita menjemput untuk mengajak ke pelaminan (huhu jangan baper loh yaaa)

Jumat, 02 September 2016

Hei Fulan, Jazakallah

Kita kedapatan cerita seorang sahabat nih, pengen tau ceritanya? yuk simak deh :)

Entah awalnya dari mana, suatu ketika datang sosok asing kepadaku, tidak secara langsung tapi melalui percakapan messeger, sebut saja si fulan. Sebenarnya datangnya karena aku yang mengundangnya, iyaa dengan aku menyukai postingan yang ia bagikan.  Namun percakapan ini tak berlangsung lama, hanya beberapa percakapan saja, boleh jadi karena memang dianya yang cuek, tak mau mengundang fitnah dengan chat yang bukan muhrim atau karena dia tak tertarik padaku, entahlah mana alasan yang benar hehe :D Jadi begini, setelah saya cari tau dari bio akun social medianya dia adalah seorang ikhwan yang sekarang sedang kuliah mengambil konsentrasi Bahasa Arab di Universitas ternama.
Kedatangannya memotivasi diri ini untuk menjadi lebih baik lagi ketika salah satu dalam percakapan kami dia menanyakan, "Apakah pakaianmu telah syar'i?" "Bagaimana dengan betismu? apakah setiap keluar rumah sudah mengenakan kaos kaki? sedangkan kakimu juga termasuk aurat". Masya Allah, bergetar hati ini membenarkan pertanyaanya, seketika aku langsung introspeksi diri, melihat diri ini yang masih suka lepas pakai kaos kaki, bahkan hampir tidak pernah memakainya. Secara tidak langsung aku berterimakasih pada ikhwan ini karena telah mengingatkanku. Ternyata di zaman sekarang masih ada ikwan seperti ini.
Lanjut pada percakapan kami, dia to the point, langsung mengutarakan niatnya bahwa dia ingin mencari pendamping hidup. Umurnya baru akan menginjak 23 tahun, bisa dikatakan cukuplah untuk berkeluarga. Lalu bagaimana kelanjutannya? apakah dia tertarik padaku? jawabannya tidak, dia tak tertarik sedikitpun pada diri ini. Mungkin aku jauh dari kriterianya, yang ia inginkan adalah wanita dengan niqob dikepalanya, sedang aku tidak :) 

Yang aku syukurkan karena Allah masih peduli kepadaku, melalui ikhwan ini Allah mengingatkanku untuk memperbaiki penampilan dan akhlakku.
Tentang si Fulan yang ingin segera menikah, aku doakan semoga engkau disegerakan oleh Allah bertemu dengan jodohmu, agar segera bertamu kerumahnya dan meminangnya pada orang tua si wanita :)

Waaah inspiratif ya pengalamannya, mimin doakan semoga istiqomah ya ukh hijrahnya :)
Keep istiqomah ukhtiii~ hihi

Hilang T_T

Kehilangan, kalau sudah bicara tentang kehilangan, pasti identik dengan sedih. Iya nggak sih? apalagi kehilangan seseorang yang di sayang *ehh.. Loh loh jangan baper yaaa hehe. "huhu kenapa harus aku yang mengalaminya? bukan dia atau mereka saja?" "Allah itu nggak adil, kenapa harus aku? *mewek cabe* nah loh, jelas-jelas ini pemikiran yang salah.
Sahabat sholcan, kalian tahu nggak, Allah itu maha adil tauk. Jika Allah sekarang sedang mengambil yang menurutmu baik, bisa jadi Allah sedang merencanakan sesuatu yang lebih baik untukmu, yang lebih engkau butuhkan, bukan hanya sekedar yang engkau inginkan. Sahabat sholcan pasti tau kan bahwa Allah itu akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Wahai sahabat sholcan sekalian, ketahuilah bisa jadi sesuatu yang telah hilang darimu itu adalah cara Allah untuk mengingatkanmu bahwa hal tersebut tidak baik untukmu, meski menurutmu itu baik. Yuk coba kita buka Al-Qur'an Surah Al-baqarah ayat 216, nah disana disebutkan bahwa Allah berfirman yang artinya "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi  (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui". Nah, sudah jelas kan sahabat sholcan, jadi mulai sekarang yuk biasakan berhusnudzon :)
Percayalah, apa yang telah, sedang, dan yang akan terjadi semua itu tak lepas dari ijin Allah dan semua itu adalah yang terbaik untukmu. Sekarang bagaimana kamu pintar-pintar mengambil sisi positif yang telah lalu, yang telah terjadi, agar dapat memperbaikinya di masa depan :)
Okey sahabat sholcan, tetap tersenyum yaa, jangan sampai sesuatu yang hilang itu merenggut senyum dan bahagiamu. Yuk tetap semangat menyambut bahagia di masa depan. Husnudzon Allah akan gantikan yang hilang tersebut dengan sesuatu yang lebih indah, kita hanya butuh bersabar, itu saja :)
Semangat sahabat sholcan :)
Salam manis
Fulana perindu