Dayyuts, sebutan bagi laki laki yang tidak punya rasa cemburu. Maksiat yang dilakukan keluarganya tidak membuat hatinya tergerak untuk mengingkarinya. TIDAK PEDULI dengan apa yang terjadi:
- Anaknya berpacaran dibiarkan saja,
- Anaknya Tidak ngaji dibiarkan saja
- Anak wanitanya tidak pakai jilbab di biarkan
- Anaknya bergaul bebas di biarkan
Dan masih banyak lagi yang ia tidak perduli. Itulah Seorang lelaki DAYYUTS
Suami yang tidak punya rasa cemburu disebut DAYYUTS, yang diancam oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut:
ثَلاَثَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ وَالدَّيُّوْثُ
“Tiga golongan manusia yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat mereka pada hari kiamat, yaitu orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki , dan dayyuts.” (HR. An-Nasa`I no. 2562, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Ash-Shahihah no. 673, 674)
Dalam riwayat Al-Imam Ahmad rahimahullah (2/127) disebutkan dengan lafadz:
ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللهُُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالْعَاقُّ، وَالدَّيُّوْثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخُبْثَ
“Tiga golongan manusia yang Allah Tabaraka wa Ta’ala mengharamkan surga bagi mereka, yaitu pecandu khamr, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan dayyuts yang membiarkan kefasikan dan kefajiran dalam keluarganya .”
Pengertian dayyuts sendiri adalah seorang lelaki/suami yang tidak memiliki kecemburuan terhadap keluarga/istrinya. Demikian diterangkan Ibnul Atsir rahimahullah dalam An-Nihayah fi Gharibil Hadits (bab Ad-Dal ma’al Ya`).
Karena tidak ada rasa cemburu tersebut, ia membiarkan perbuatan keji terjadi di tengah keluarganya. ISTRInya dibiarkan bebas keluar rumah, berduaan dengan yang BUKAN MAHROMnya (supir atau temannya). Ia malah bangga bila kecantikan dan penampilan istrinya ditonton banyak orang. Para lelaki dibiarkan dengan leluasa berbicara dan bercengkerama dengan istrinya. Hingga akhirnya si istri berselingkuh, karena ia sendiri yang membukakan pintu maksiyat. Kita mohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kekejian tersebut.
Dari penjelasan di atas, tahulah kita bahwa cemburu atau ghirah kepada istri justru perkara yang terpuji dan dituntut, di mana dengan perasaan ini seorang suami menjaga istrinya agar tidak jatuh dalam perbuatan nista dan dosa.
Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya. (QS Al-Baqarah: 196).
Uhibbukum fillah..
repost from grup WA Iqra Sunnah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar